Rabu, 27 Oktober 2010

METODE DAKWAH MAUIDOH HASANAH (CERAMAH) GUNA MENGANTISIPASI KURANGNYA PEMAHAMAN NILAI-NILAI AGAMA

METODE DAKWAH MAUIDOH HASANAH (CERAMAH) GUNA MENGANTISIPASI KURANGNYA PEMAHAMAN NILAI-NILAI AGAMA


I.             LATAR BELAKANG MASALAH
Kewajiban dakwah ada pada setiap umat Islam tanpa terkecuali. Umat Islam sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, dituntut untuk melakukan dakwah dimanapun ia berada. Dakwah tidak hanya terbatas diatas mimbar masjid. Disekolah, pasar dan terminal dan semua tempat adalah medan dakwah. Seorang guru berdakwah mengajak kepada muridnya dijalan Allah, seorang pedagang bisa menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam berdagang. Seorang pejabat bisa berdakwah dengan menerapkan nilai dan moral Islam dalam mengelola negara serta menghimbau pada masyarakat untuk menaati norma-norma agama. Pendek kata, semua orang bisa berdakwah sesuai dengan kapasitas serta kemampuannya masing-masing.
Dalam dakwah, metode yang sering digunakan biasanya berupa metode himah, ceramah dan diskusi dengan cara yang baik. Seiring perkembangan zaman yang semakain canggih ini, bukan hanya sekedar menyampaikan materi saja, akan tetapi dalam mencapai keberhasilan yang ditandai salah satunya lewat penerimaan secara sadar terhadap materi yang kita samapaikan dan ini mengalami banyak kesulitan. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam dakwah tidak cukup menyampaikan materi saja, namun harus menggunakan materi yang tepat.
Mungkin ditelinga kita, ceramah sudah tidak asing lagi, tetapi kebanyakan manusia meremehkan ceramah itu sendiri, sehingga pemahaman tentang nilai-nilai agama berkurang. Jika dalam kultur modern ceramahkan merupakan tindakan pencegahan (preventif), dalam fenomena pada zaman sekarang ceramah bukan hanya tindakan pencegahan saja, namun juga merupakan tindakan pemeliharaan. Namun, ceramah pada umumnya pelaksaannya cenderung monoton, sehingga keefektifan dalam dakwahpun berkurang.
Apa yang terjadi dalam urian diatas adalah bagian dari proses yang harus berhadapan dengan dinamika perubahan di dalam masyarakat. Atas dasar asumsi teoritik inilah, penulis ingin menggali lebih jauh tentang metode ceramah guna mengantisipasi kurangnya pemahaman nilai-nilai agama.

II.          RUMUSAN MASALAH
Untuk memfokuskan dalam pembahasan ini, penulis ingin membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Pengertian ceramah dan langkah-langkahnya
2.      Bagaimana keefektifan serta problem dalam penggunaan metode ceramah?
3.      Bagaimana aplikasi mengenai metode ceramah terhadap perkembangan zaman?

III.       TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah pertama, ingin mengetahui barbagai macam masalah yang muncul akibat kurangnya pemahaman nilai-nilai agama seiring perkembangan zaman. Kedua, penelitian ini kemudian ingin mengindentifikasi pola-pola keberagamaan yang baru terbentuk, sebagai implikasi dari sistem makna yang sudah terbangun.
2.      Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni teoritik dan praktis. Secara teoritik, penelitian ini diharapakan mampu memperkaya khasanah kritik agama seiring dengan perkembangan zaman, dan melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan antisipasi atas budaya massa yang secara tidak langsung dapat menggeser makna religius dimasyarakat.
IV.       LANDASAN TEORI

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk[1]
Ayat makiyah mengandung unsur perintah Allah untuk mengajak manusia ke jalan-Nya. Rasulullah SAW dan pengikutnya dari kaum muslimin dan muslimat mukallaf karena beban kewajiban dakwah. Dan manusia diciptakan oleh Allah menjadi makhluk yang sempurna, namun terkadang manusia lalai dan lupa terhadap kewajibannya, oleh itu kita bisa saling menyeru pada kebaikan dan melerai pada keburukan (amar ma’ruf dan nahi mungkar).
Pengertian metode ceramah
Hakikatnya pengertian ceramah sendiri hampir sama dengan pengertian nasihat yaitu tindakan mengajak pada kebaikan dan melerai pada perbuatan mungkar. Namun, ceramah dalam pelaksanaanya berbeda dengan nasihat
Kata metode terambil dari bahasa Yunani, yakni methodos yang mengandung arti jalan atau cara.[2] Begitu juga didalam bahasa Arab yang artinya tata cara.
Ceramah adalah penerangan dan penuturan secara lisan yang bertujuan untuk menggerakkan atau memotivasi untuk melakukan tindakan positif serta mencegah pada perbuatan-perbuatan buruk.[3]

V.          PEMBAHASAN
1.      Langkah-langkah dalam metode ceramah
Langkah-langkah dalam melaksanakan ceramah sendiri itu ada tiga yaitu :
·         Persiapan
Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah :
a.                   Merumukan masalah yang ingin dicapai.
b.                  Menentukan pokok-pokok materi yang ingin dibahas.
Ceramah yang baik adalah ceramah dengan permasalahan atau pembahasan yang jelas, fokus pada satu titik permasalahan yang masih terkait dengan tema pokok yang sedang dibahas
c.                   Mempersiapkan apa yang dibutuhkan, misalnya saja dalam persiapan mental.
·         Pelaksanaanya
Didalam pelaksanaanya ceramah akan efektif bila si da’i bisa mengontrol keadaan, dalam artian bisa memberi simpati, sehingga mendorong audien untuk konsen terhadap materi yang akan kita berikan.[4]
·         Evaluasi
Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan ceramah secara keseluruhan.
2.      Relasi antara metode, keefektifan serta problem dalam metode ceramah : sebuah telaah perspektif
Manusia diciptakan oleh Allah dengan diberi akal, hati, dan jasmani yang sempurna. Ketiga hal itu memunculkan ilmu, iman serta amal. Namun manusia adalah tempatnya salah dan lupa, dakwah dalam bentuk ceramah yang baik jika disampaikan dengan perkataan yang menyakitkan hati atau menyinggung harga diri cenderung akan ditolak mentah-mentah. Bila kita berbicara tentang keefektifan dalam dakwah, kita sendiripun harus memahami berbagai macam karakter mad’u
Ada tiga karakteristik manusia :
v           Manusia yang berperilaku dengan akhlak islamiyah
Orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang seperti ini lebih diutamakan karena dekat dengan dakwah dan mudah untuk menerima dakwah.
v           Manusia yang berperilaku dengan akhlak Asasiyah
Orang yang tidak taat pada agama, namun tidak terang-terangan dalam maksiat, karena ia masih menghormati harga dirinya.
v           Manusia yang berperilaku dengan akhlak Jahiliyah
Orang yang tidak taat pada agama dan dia juga terang-terangan dalam maksiat, kareana dia sudah tidak punya rasa malu dan sudah tidak pedulu dengan dirinya.[5]
Dalam pelaksanaannya kita tidak bisa langsung menceramahi orang yang berperilaku jahiliyah dengan terang-terangan. Alih-alih menyadarkan seseorang akan kesalahan yang dilakukannya, nasihat yang disampaikan dengan perkataan yang menyakitkan akan menimbulkan perasaan tidak senang, bahkan menimbulkan sikap bermusuhan
Setiap metode memiliki kelebihan serta kekurangan didalamnya. Dalam metode ceramah memiliki kekurangan antara lain :

v           Audien cenderung pasif
Memang benar didalam penyampaian materi ceramah, si da’i bisa menyampaikan materi yang banyak yang dirangkum dalam waktu yang singkat, akan tetapi  bila audiens hanya  mendengarkan saja, apa yang telah disampaiakan oleh si da’i tidak sepenuhnya ditangkap oleh mad’u.
v           Bila didalam segi kebahasaan si da’i masih belum menggunakan bahasa yang baik dan benar, ceramah sering dipersepsi sebagai metode yang membosankan. Dan sering terjadi dikalangan kita, walaupun si mad’unya ada didepan kita, namun pikiran mereka sampai dimana-mana. Ini menunjukkan kurangnya greget mad’u dalam mendengarkan ceramah itu sendiri.
v           Audien sukar mengosentrasikan pikiran. Karena metode ceramah tidak ada hubungan timbal-balik antara si da’i dan mad’u, dalam ceramah audien cenderung lebih banyak mengobrol dengan teman sebelahnya.
Memang benar, didalam ceramah bisa jadi sebagian pendengar  tidak memahami itu semua, bahkan mungkin tidak mengerti maksud dan tujuannya. Terkadang sebagian atau seluruhnya dilupakan saja. Dan kadang ia hanya menjadi sebuah teori belaka, sedang sebagian besar tidak mengerti bagaimana penerapannya, atau kadang-kadang sebagian mereka keliru dalam penerapannya. Namun didalam forum-forum yang besar seperti pengajian dikawasan pesantren yang notabennya adalah manusia yang berakhlak islamiyah, metode ceramah bisa menjadi metode yang tepat.
Pada dasarnya setiap metode itu sama, keberhasilan dari suatu metode baik itu bil hikmah, mauidoh hasanah ataupun mujadalah tergantung pada tata cara mempersuasi / meyakinkan seseorang. Dalam dakwah, kita memang tidak bisa menentukan metode mana yang paling efektif dalam dakwah, namun kita bisa memadukan antara metode yang satu dengan metode yang lain guna menutupi kelemahan yang ada dalam metode tersebut, misalnya saja metode ceramah yang terkesan satu arus saja, namun bila dipadukan dengan metode debat, pemahaman tentang nilai-nilai agama yang telah disampaikan oleh dai tidak ditelan bulat-bulat oleh mad’u, namun bisa disaring melalui debat, sehingga mad’u bisa mengerti bagaimana penerapan tentang apa yang telah disampaikan oleh dai.

3.      Aplikasi  metode ceramah terhadap perkembangan zaman
Jika modernisasi dianggap sebagai penghancur nilai-nilai dalam masyarakat dalam proses sekulerisasi, maka ada beberapa kemungkinan yang muncul. Pertama, terjadi sekulerisasi besar-besaran didalam sistem nilai masyarakat yang secara perlahan namun pasti akan mengikis habis makna religus dari punggung sejarah umat manusia. Kedua, makna-makna religius akan tetap eksis lengkap dengan sistem nilai yang mendampinginya, namun dengan dibarengi dengan penyesuaian dan adaptasi dengan modernitas.
Di zaman sekarang mungkin ceramah akan tetap eksis dalam perkembangan zaman, mungkin dibarengi dengan penyesuaian sarana-prasarana baik itu lewat televisi internet dan sarana lainya

VI.       Analisis
Perlu diperhatikan bahwa ceramah akan berhasil baik bila didukung dengan mtode-metode lainnya. misalnya tanya jawab, diskusi ataupun dengan yang lainnya. Metode ceramah itu wajar dilakukan bila ingin mengajarkan suatu topik baru. Dilihat dari segi apapun, metode dakwah yang paling baik digunakan adalah semua metode tergantung dari situasi dan kondisi. Keberhasilan dari suatu metode tergantung pada ketepatan menggunakannya.

VII.    Penutup
Metode ceramah ini memang cenderung lebih santai karena audience hanya mendengarkan, namun metode ini biasanya digunakan dalam dakwah yang mad’unya diberikan pada masyarakat dari yang berpendidikan rendah sampai tinggi menurut situasi dan kondisinya.
Demikian makalah ini penulis sajikan, mungkin didalam penulisan banyak sekali kesalahan dalam tata bahasa yang kurang efektif. Oleh karena itu, kritik dan saran penulis harapkan demi perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Abbas As-Siisiy, bagaimana menyentuh hati, Era Intermedia, Solo, 2004
Al qur’an dan terjemah
http://dankfsugiana, wordpress.com/2008/12/30/ konsep-dasar-dan teknik retorika
Fuad Hasan dan koentjaraningrat, beberapa asas metodologi ilmiah, Gramedia, Jakarta, 1997


[1] Al qur’an dan terjemah
[2] Fuad Hasan dan koentjaraningrat, beberapa asas metodologi ilmiah, Gramedia, Jakarta, 1997, hal 16
[3] http://massofa.wordpress.com
[4] http://dankfsugiana, wordpress.com/2008/12/30/ konsep-dasar-dan teknik retorika
[5] Abbas As-Siisiy, bagaimana menyentuh hati, Era Intermedia, Solo, 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar